Jumat, 04 Desember 2015

Cidera pada Pebasket

          Olahraga bola basket pertama kali diperkenalkan di dunia oleh Dr. James Naismith pada tahun 1891, menggunakan satu buah bola sepak bola dan dua buah keranjang. Pada awalnya olah raga ini adalah olah raga dengan tingkat resiko cedera yang rendah. Saat ini, kecepatan tinggi, kontak fisik, dan aggresivitas, merupakan hal yang umum terjadi pada olah raga bola basket, sehingga menyebabkan makin tingginya resiko terjadinya cedera. Diperkirakan hampir 1,6 juta cedera terjadi sehubungan dengan olah raga bola basket1 .


EPIDEMIOLOGI
          Pada atlet bola basket laki-laki, rata-rata terjadinya cedera pada saat pertandingan adalah 9,9 per 1000, sedangkan pada saat latihan sekitar 4,3 per 1000. Pada wanita angka cedera, dua kali lebih tinggi pada saat pertandingan, dibandingkan saat latihan. Pada usia sekolah, resiko terjadinya cedera Sembilan kali lebih tinggi pada saat pertandingan dibandingkan saat latihan. Pada atlit professional, angka terjadinya cedera pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan wanita. Cedera yang paling banyak terjadi hampir 60% pada ekstremitas bawah, dimana cedera pada ankle joint ligament adalah yang paling sering terjadi, baik pada laki-laki ataupun pada wanita1.
          Berdasarkan mekanisme terjadinya cedera,  kontak fisik yang terjadi pada saat pertandingan dan latihan, dikatakan pada laki-laki kontak saat pertandingan lebih tinggi, sekitar 52%, dibandingkan pada saat latihan, 44%, sedangkan pada wanita, kontak fisik yang terjadi adalah 46% saat pertandingan dan 31% saat latihan1,2.


CEDERA SPESIFIK PADA BOLA BASKET

     Cedera pada kepala dan wajah
          Bola basket merupakan olah raga dengan tingkat ceddera tertinggi kedua pada daerah wajah, termasuk mata dan rongga mulut di Amerika Serikat. Pada umumnya daerah yang sering terkena pada daerah wajah adalah pelipis, bibir, dan dagu. Tipe yang paling sering pada sport related trauma adalah cedera pada jaringan lunak dan fraktur pada T-Zone bones, yaitu hidung, zygoma, dan mandibula. Cedera ini bahkan terjadi secara bersamaan, tergantung jenis dari trauma yang terjadi. Mekanisme terjadinya cedera, pada umumnya diakibatkan karena adanya tabrakan antara bony prominence dari pemain, seperti siku, lutut, kepala, dan tangan atau terjatuh dan terjadi kontak langsung dengan lapangan permainan1,2.

1. Fraktur pada nasal
         Karena posisinya yang dekat dengan permukaan wajah, maka fraktur pada nasal merupakan fraktur yang paling sering terjadi pada struktur wajah. Fraktur nasal terjadi sekitar 50% pada sport related facial fracture. Persepsi orang bahwa hidung tidak terlihat pada saat bertanding, menjadi penyebab minimnya penanganan pada fraktur nasal. Pada fraktur nasal juga harus diperhatikan adanya sumbatan pada jalan napas.
Indikasi penatalaksanaan pada kasus ini adalah apabila terdapat perdarahan yang jelas keluar dari hidung, ataupun ada deformitas yang terlihat jelas pada bagian luar hidung. Apabila terdapat luka terbuka, maka dilakukan irigasi, dan pemberian es untuk mengurangi bengkak, apabila bengkak berlangsung terus-menerus dan akan meyulitkan untuk dilakukan reduksi tertutup, maka dapat ditunggu 4 sampai 7 hari sampai bengkak berkurang, kemudian dilakukan splinting pada bagian dalam dan luar basal, kemudian splint dibuka pada 7 sampai 10 hari. Tulang nasal akan mengalami penyembuhan dalam 4 sampai 8 minggu. Menurut OSHA ( Occupational Safety and Health Administration ) , atlit yang mengalami perdarahan harus dikeluarkan dari pertandingan sampai perdarahan dapat dikontrol dan darah harus dibersihkan dari badan dan seragam. Lakukan penekanan pada sumber perdarahan, penjahitan, dan adhesive dressing1,2,5.

2. Cedera pada mata
       Cedera yang paling sering pada mata adalah abrasi pada kornea akibat dari trauma yang ditimbulkan dari jari atau kuku lawan tanding. Pada cedera ini harus diperiksa kekuatan visual atau visus, dan fungsi dari otot-otot ekstra ocular. Apabila terdapat abrasi pada kornea, dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fluorosensi atau lampu biru. Abrasi ini dapat hilang secara spontan dalam 48 sampai 72 jam. Disarankan untuk merujuk kasus ini ke dokter spesialis mata untuk pemeriksaan lebih lanjut. Untuk mengurangi resiko terjadinya cedera pada mata, sebagai perlindungan sebaiknya dipakai pelindung mata ( goggles )1,3.

3. Cedera pada gigi
       Cedera pada gigi dapat terjadi secara permanen, apabila penanganan yang dilakukan tidak adekuat. Apabila telah datang pada kondisi tersebut, maka untuk penanganannya membutuhkan biaya yang mahal. Pemasangan pelindung gigi dapat digunakan sebagai pilihan proteksi1,3.

Cedera pada cervical spine
       Pada umumnya cedera yang terjadi adalah berupa  strain  dari  servikal,  dimana  terjadi peregangan pada nerve root. Pemain biasanya merasakan panas dan tertusuk pada satu sisi ekstremitasnya, atau nyeri yang menjalar dari leher dan bahu, sampai ke ujung jari. Kekuatan otot pada ekstermitas harus diperiksa dengan skala 0 sampai 5. Otot deltoid diperiksa, apakah ada kelainan pada nerve root C5, demikian juga dengan otot bisep dan trisep, untuk nerve root C6 dan C7. Aadapun mekanisme trauma yang sering terjadi saat diving merebut bola yang lepas, benturan pada kepala yang sangat keras yang tidak dapat ditahan oleh konstruksi otot dan tulang pada servikal, atau peregangan pada brachial plexus yang dapat menyebabkan neuropraksia1,2,3.
STINGERS ATAU BURNER
          Cedera ini ditimbulkan akibat adanya peregangan pada nerve root. Mekasime terjadinya cedera adalah pada posisi hiperekstensi dari leher pemain dengan deviasi ipsilateral dari kepala pemain. Pemain pada kondisi ini harus diistirahatkan sampai kekuatan otot dan sensasi kembali seperti semula, dapat dibantu dengan pemberian NSAIDs dan muscle relaxant. Kasus ini dapat kita diagnosis banding dengan fraktur pada servikal, dan herniasi pada servikal. Tetapi untuk bola basket kasus fraktur dan herniasi pada servikal sangat jarang terjadi. Sebagai prognosis, pasien dapat kembali bermain apabila status neurologis normal dan tercapai full ROM pada leher1,3,4.

Cedera pada lumbar spine
      Cedera pada lumbar spine yang berhubungan dengan bola basket biasanya adalah low back strains yang timbul akibat gerakan meloncat, dan gerakan dengan tingkat benturan yang tinggi, yang dikombinasikan dengan rotasi ke arah lateral. Secara biomekanik spine, beberapa sindroma dapat kita diagnosa sehubungan dengan aktivitas yang dilakukan, diantaranya pada saat flexi, dapat menyebabkan semakin besarnya kanalis vertebralis dan foramina intervertebra, meningkatkan tekanan pada nerve root,sedangkan sebaliknya pada posisi ekstensi. Sedangkan gerakan rotasi dan torsi dpat menyebabkan robekan pada annulus dan herniasi pada diskus. Secara klinis dapat timbul keluhan nyeri, gerakan yang terbatas, dan adanya defisit neurologis. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan nyeri lokal, deformitas, defisit neurologis. Adapun kelainan lain yang berhubungan dengan cedera ini diantaranya thorasic disc herniation, acute lumbar spine, spondylolisthesis. Untuk penatalaksanaan tergantung dari kondisi yang ditemukan. Untuk prognosis pada cedera ini, penderita dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori, yaitu minimal risk, moderate risk, extreme risk1,2,3.

Cedera pada bahu
      Sendi bahu memiliki ROM terbesar apabila dibandingkan dengan sendi lainnya pada tubuh manusia. Stabilitas dari sendi bahu secara statis ditentukan oleh kapsul sendi, glenoid labrum, dan ligament glenohumeral, dan secara dinamis melalui kontrol dari rotator cuff. Beberapa keadaan yang berhubungan dengan cedera ini diantaranya1,3.

1. Dislokasi
        Instabilitas anterior mempengaruhi hampir 98% dari instabilitas pada sendi bahu pada olah raga basket. Mekasime terjadinya cedera pada kasus ini biasanya adalah pada saat melakukan gerakan eksternal rotasi dan elevasi ke arah depan ( forward elevation ). Cedera ini dapat terjadi pada saat melakukan diving saat merebut bola, mendarat setelah lompatan dan jatuh pada posisi yang tidak tepat ( onto outstretched hand ), atau pada saat melakukan pertahanan  dan posisi tangan terdorong secara paksa ke arah belakang. Cedera yang ditimbulkan biasanya bersifat akut. Diagnosis didasarkan pada pemeriksaan klinis, dimana dapat ditemukan nyeri yang bersifat hebat, kadang-kadang terdengar bunyi popping off, kaput humerus dapat teraba anteroinferior, dan dapat ditemukan adanya defek dibawah akromion, dan pemain akan sulit untuk menggerakkan bahunya, dan harus dicurigai juga adanya cedera pada saraf dan pembuluh darah. Pemeriksaan x ray dibutuhkan sebelum dilakukan suatu tindakan reduksi tertutup1,3,4.

2. Cedera pada rotator cuff
        Supraspinatus  dan infraspinatus merupakan otot yang paling sering mengalami cedera pada kasus ini. Adapun mekanisme trauma yang terjadi dapat berupa single trauma event, dan repetitive microtrauma ( sering terjadi ). Permasalahan pada rotator cuff dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu akut dan kronis.
        Pada fase akut, biasanya terjadi sebagai suatu hasil dari pergerakan yang tiba-tiba dan kuat. Gejala yang ditimbulkan termasuk nyeri pada bahu menjalar sampai pergelangan tangan yang terjadi secara tiba-tiba, nyeri terbatas dari bahu akibat nyeri atau spasme pada otot, nyeri spesifik pada daerah yang mengalami cedera ( x-marked spot ).
      Pada fase kronis, biasanya terjadi pada waktu yang lama. Biasanya berhubungan dengan terjadinya impingement syndrome, terjadi pada dominant side, nyeri yang makin bertambah dan kadang-kadang menyebabkan kelemahan, terdapat limitasi pada pergerakan, terutama saat melakukan gerakan abduksi. Penatalaksanaan pada fase awal dapat dilakukan RICE dan medikamentosa untuk mengurangi nyeri. Beberapa pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan, antara lain drop arm test, external rotation lag sign untuk menilai kelainan pada infraspinatus, lift off test untuk menilai robekan pada subscapularis, dan Belly-press test, juga untuk subscapularis1,4.

3. Cedera pada AC joint
        Mekanisme terjadinya cedera pada kasus ini biasanya diakibatkan gerakan mendarat dengan bahu pada posisi posterolateral. Menurut Rockwood, cedera pada AC joint dapat dibagi menjadi 6 grade. Grade 1, simple sprain pada AC joint, grade 2, terdapat ruptur pada AC ligament, grade 3, rupture pada AC dan CC ligament, dan terjadi pergeseran ke arah posterior, grade 4, pergeseran ke arah posterior, grade 5, superior displacement, dengan peningkatan coracoclavicular space 3 sampai 5 kali dari normal. Pada pemeriksaan klinis didapatkan nyeri dan deformitas pada AC joint. Penatalaksanaan pada kasus ini adalah RICE, immobilisasi pada sendi, dan medikasi, operasi diperlukan sesuai dengan indikasi1,4.

Cedera pada siku
         Cedera pada siku dan pergelangan tangan sering terjadi, tetapi jarang sekali terjadi suatu fraktur atau dislokasi. Cedera yang mungkin terjadi berupa aberasi, laserasi, dan olecranon bursitis. Mekanisme yang biasanya terjadi adalah pada saat melakukan gerakan diving saat merebut bola, malakukan gerakan pertahanan saat lawan melakukan gerakan menyerang, melakukan rebound sambil menggerakkan bahu1,2.
Olecranon Bursitis
          Juga dikenal dengan nama miner’s elbow atau student’s elbow, dimana terjadi proses inflamasi pada bursa pada olecranon process daripada ulna, biasa terjadi secara akut atau kronik. Mekanisme trauma yang terjadi biasanya akibat trauma secara langsung ( mild ) pada bagian posterior dari siku, atau dapat terjadi akibat trauma repetitive pada jaringan lunak. Pada pemeriksaan klinis didapatkan bengkak pada bagian belakang siku, terdapat benjolan yang fluktuatif pada siku, edema pada jaringan lunak sekitar pergelangan tangan, pergerakan tidak terbatas, status neurologis yang normal. Penatalaksanaan pada kasus ini adalah RICE, pemberian NSAIDs, pada kasus yang kronis dapat dilakukan aspirasi dan injeksi kortikosteroid, dengan elastik verban selama 2 sampai 3 minggu,apabila terdapat septic bursitis, dapat dilakukan eksisi drainase dan pemberian antibiotic oral selama 2 minggu. Prognosis pada pasien dengan aseptik bursitis  akan lebih baik, sedangkan tindakan operatif, membutuhkan waktu lebih kurang 6 minggu untuk pemulihan1,3.

Cedera pada pergelangan tangan
         Mekanisme trauma yang sering terjadi adalah jatuh di lapangan dengan outstretched hand ketika didorong oleh lawan, dan tidak dapat mendarat dengan posisi kaki terlebih dahulu. Cedera yang banyak terjadi adalah
Fraktur pada schapoid
          Pada  pemeriksaan  klinis biasanya ditemukan nyeri pada saat kita melakukan palpasi pada snuff box, bengkak yang cepat pada bagian belakang dari pergelangan tangan, pasien akan sulit untuk memegang benda. Penatalaksanaan pada kasus ini, dapat digunakan thumb spica splint, apabila bengkak sudah berkurang, apabila terdapat displaced fracture, maka dilakukan tindakan operatif. Beberapa cedera lain yang berhubungan adalah dislokasi lunatum, dissosiasi dari schapolunate1,2,3.

Cedera pada jari
           Cedera ini sangat sering terjadi pada atlit bola basket, disebabkan oleh trauma langsung yang ditimbulkan oleh bola basket itu sendiri pada jari, atau dari ring basket. Beberapa cedera yang mungkin terjadi antara lain1,3.

 1. Swan Neck Deformity
    Dimana terjadi hiperekstensi dari PIP joint dan fleksi dari DIP joint. Nalebuff mengklasifikasikan swan neck deformity menjadi 4 tipe, yaitu tipe 1, PIP joint masih fleksibel pada semua posisi, tipe 2, gerakan fleksi terbatas pada posisi tertentu, tipe 3, fleksi PIP joint terbatas pada semua posisi, tipe 4, terdapat stiffness pada PIP joint1,2,3.

2. Boutonniere deformity
   Dimana terjadi hiperekstensi dari DIP joint, dengan fleksi dari PIP joint akibat adanya disrupsi pada insersi ekstensor tendon ( central slip ) terhadap base phalank media1,2,3.

3. Mallet finger
    Dimana terjadi flexion deformity dari DIP joint, apabila terjadi trauma pada ujung jari yang sedang pada posisi ekstensi, maka akan terjadi avulsi dari insersi tendon ekstensor ke arah dorsal terhadap distal phalank.
Penatalaksanaan pada kasus ini adalah dengan melakukan imobilisasi dengan splint selama lebih kurang 6 minggu. Pada mallet finger, tindakan operasi berupa pinning dapat dipertimbangkan untuk mempertahankan reduksi, perawatan pada jaringan lunak, dan agar atlit dapat segera bermain kembali.

Cedera pada Quadriceps dan Hamstring
Mekanisme cedera yang sering terjadi adalah direct blow dari lutut pemain lain, strain pada otot juga sering terjadi sebagai akibat dari tegangan yang berlebihan pada otot saat melakukan gerakan bola basket. Untuk pencegahan, sebaiknya sebelum pertandingan dilakukan pemanasan yang adekuat, peregangan otot yang adekuat untuk mencegah cedera lebih lanjut. Penatalaksanaan pada kasus ini adalah RICE, dan fisioterapi bila dibutuhkan.

Cedera pada lutut
Beberapa cedera yang mungkin terjadi diantaranya adalah

1. Cedera pada ACL
    Cedera ACL pada atlit basket wanita adalah empat kali lebih banyak dibandingkan dengan atlit pria, hal ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya adalah faktor hormonal, perbedaan biomekanik ( valgus knee, bentuk pelvis yang lebih besar pada wanita ). Mekanisme yang mungkin terjadi adalah akibat hiperekstensi, varus dan internal rotasi, dan gerakan valgus dan eksternal rotasi mungkin terjadi. Pada pemeriksaan klinis didapatkan hemarthrosis yang besar, Lachman test yang positif, positif Pivot shift test, anterior drawer sign. Untuk konfirmasi diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan MRI. Penatalaksanaan pada kasus ini pada fase akut, terutama pada pasien aktif, tindakan operatif dibutuhkan. Tindakan rekonstruksi biasanya ditunda sampai 3 minggu agar bengkak berkurang dan ROM meningkat.

2. Jumper’s knee ( Patellar Tendinopathy )
   Merupakan overuse injury, pada pemeriksaan didapatkan nyeri pada beberapa lokasi berikut, insersi dari quadriceps tendon terhadap superior patellar pole, insersi patellar tendon terhadap tuberositas tibia, origo dari patellar tendon ( infrapatellar ligament ) dari inferior patellar pole. Penatalaksanaan pada kasus ini dapat dibagi menjadi konservatif dan operatif. Pada konservatif dapat dilakukan quadriceps muscle strengthening program, muscle strengthening untuk otot-otot weight bearing lainnya, seperti calf muscle, kompres es untuk mengurangi nyeri dan inflamasi, fisioterapi, NSAIDs. Sedangkan untuk tindakan operatif masih dianggap tidak memberikan hasil yang signifikan1,3,4.

Cedera pada kaki dan ankle
Beberapa cedera yang mungkin terjadi antara lain

1. Ankle sprain
Merupakan cedera yang paling sering terjadi. Faktor resiko pada penderita yang pernah mengalami ankle sprain akan lima kali lebih besar dibandingkan dengan atlit yang belum pernah mengalami ankle sprain. Pemain yang menggunakan sepatu dengan udara pada tumit, akan empat kali lebih besar terkena ankle sprain dibandingkan dengan yang tidak menggunakan bantalan udara. Pemain yang tidak melakukan pemanasan yang adekuat akan 2,5 kali lebih besar kemungkinan terkena ankle sprain. Mekanisme terjadinya trauma biasanya diakibatkan oleh inversion injury, dimana pemain mendaratkan kakinya pada kaki pemain lain dan ankle nya terputar1,3,4.

2.  Ruptured Achilles Tendon
Pada umumnya terjadi pada pemain yang sudah memasuki dekade tiga dan empat dari umurnya. Mekanisme terjadinya cedera biasanya terjadi secara tiba-tiba, bahkan terjadi dari gerakan konsentrik dan eksentrik yang tidak terduga dari ankle plantarfleksi1,3,4.

3.  Foot Ligamentous Injury
Yang sering terjadi adalah medial subtalar dislocation ( basketball foot ), yaitu dislokasi dari talocalcaneal dan talonavicular joint, yang diterapi dengan reduksi dan immobilisasi, subtalar sprains, midtarsal (Chopart) joint dislocation, Lisfranc joint sprains1,3.

4. Fifth Metatarsal Stress Fracture
Dilakukan intervensi tindakan operatif berupa pemasangan intramedullary screw, apabila terdapat non union dan sklerosis, maka tindakan bone graft dan debridement diperlukan1,3,4.



DAFTAR PUSTAKA

1.      Madden C, Young C. Netter`s Sport Medicine, Philadelphia. 2010; 517-52

2.     Apley & Solomom. Apley’s System of Orthopaedics and Fractures. 7 Edition, Butterworth Heinemann. 1993

3.  Salter RB: Fracture in Joint Injuries. In: Text Book of Disorder and Injuries of the Musculoskeletal System. 2sd Edition. William & Wilkin. Baltimore, London. 1983; pp: 349-425

4.   Miyasaka KC, DM Daniel, ML Stone. The incidence of knee ligament injuries in the general population. Am J Knee Surg. 4:43-48, 1991


5.   Mimi T Chao, MD, Facial Trauma, Sports-Related Injuries, Department of Plastic and Reconstructive Surgery, St Louis University School of Medicine, 2010

LUTUT PESEPEDA

Bersepeda adalah salah satu bentuk paling umum dari latihan aerobic bagi atlet baik untuk kompetisi maupun rekreasi. Bagi sebagian orang, sepeda digunakan sebagai alat transportasi utama. Diperkirakan lebih dari 45 juta orang pengguna sepeda di Amerika. Seiring semakin populernya penggunaan sepeda, begitu juga dengan meningkatnya insidensi terjadinya cedera. Cedera mungkin berhubungan dengan kurang cocoknya sepeda, penggunaan yang berlebihan, trauma langsung baik karena tabrakan atau jatuh, perlengkapan yang salah atau faktor lingkungan. Ada juga cedera spesifik berdasarkan tipe sepeda, seperti sepeda gunung, atau sepeda jalan raya.[1]

            Sepeda
Sepeda terdiri dari rangka dengan beragam komponen termasuk  stang, rem, roda, pedal,gigi, dan sadel.[1-2] Ada beberapa perbedaan pada perlengkapan pada sepeda gunung dan sepeda jalan raya. Sepeda gunung memiliki shock absorber depan dan belakang untuk mengurangi benturan pada daerah-daerah yang tidak sama pada pengendara.[1]  Sepeda gunung memiliki tiga cincin rantai depan, sedangkan sepeda jalan raya kebanyakan memiliki dua cincin rantai depan. Setir sepeda gunung biasanya lurus, yang berguna mempertahankan posisi pengendaara pada posisi tegak. Sepeda jalan raya memiliki setir yang berbentuk kurva, sehingga posisi setir lebih rendah.


Gambar 1. Sepeda dan komponennya[1-4]

 Fisiologi dan Biomekanik



Gambar 2. Sendi lutut[5]

Total pergerakan sendi pada bidang  datar pada satu siklus penuh pedal mendekati 45 pada panggul, 75 pada lutut dan 20 pada pergelangan kaki.[1]  Lutut menjadi lebih terpapar dari panggul dan pergelangan kaki pada perubahan tinggi tempat duduk. Lutut lebih fleksi pada saat tempat duduk rendah daripada tempat duduk lebih tinggi. Pergerakan lutut ke depan sekitar 6 cm terjadi pada lutut saat siklus pedal. Pada saat power phase pada siklus pedal, sendi lutut bergerak ke medial seiring dengan aduksi femur, internal rotasi dari tibia, dan pronasi dari kaki. Menaikkan tempat duduk akan menambah gerakan-gerakan ini, sedangkan menurunkan tempat duduk akan menguranginya.[5]
Gerakan kesamping dank e depan dari alat gerak bawah member kontribusi kepada nyeri lutut. Pengendara sepeda dengan nyeri lutut memiliki derajat gerakan kesamping dan kedepan daripada pengendara tanpa nyeri lutut.[1-2]
Kordinasi kontraksi otot-otot punggung dan ekstremitas dibutuhkan untuk sebuah siklus pedal. Otot para spinal dan perut membuat punggung dan panggul stabil, sehingga ekstrtemitas menghasilkan tenaga. Selama siklus pedal, otot quadriceps dan gluteal aktif selama 2/3 dari power phase, sedangkan harmstring selama 1/3 dari power phase.[1] Selama power phase,otot  harmstring dan gluteal berfungsi sebagai ekstensi panggul, dan quadriceps sebagai ekstensi lutut.[1, 5]
Otot quadriceps juga berperan aktif selam a transisi dari fase pemulihan ke power phase, yang mengangkat pedal ke atas. Otot harmsring aktif selama transisi dari power phase ke fase pemulihan awal yang membantu pedal ke bawah, juga member tenaga untuk membawa pedal ke atas selama fase pemuliahan awal.[1, 5]
Otot soleus dan gastrocnemius aktif selama fase pertengahan dari power phase. Selama power phase, otot gastrocnemius dan soleus memberi tenaga pedal ke bawah dan menahan dorsifleksi dari pergelangan kaki. Pada saat kontraksi dari gastrocnemius saat fase pemulihan awal menyebabkan plantar fleksi darim kaki dan meningkatkan kemampuan harmstring untuk fleksi lutut dan mengangkat pedal.[1, 5]
    
            Cidera pada Lutut

Beberapa penelitian pada atlet menunjukkan cedera lutut, termasuknyeri lutut depan,sindroma nyeri lutut depan adalah cedera paling sering pada pusat-pusat sports medicine.[2]
Cedera overuse terjadi ketika terjadi akumulasi kerusakan jaringan yang disebabkan pembebanan submaksimal berulang yang tidak maksimal, seperti pada tulang dan tendon. Tanpa pemulihan yang cukup, mikrotrauma akan memicu respon peradangan, menyebabkan pelepasan subtansi vasoaktif, sel peradangan, dan enzim yang merusak jaringan. Kumpulan mikrotrauma dari aktivitas berulang biasanya mengarah kepada cedera secara klinis.[2]
Saat evalusi nyeri lutut karena cedera overuseyang disebabkan bersepeda, sangat penting untuk mempertimbangkan kecocokan sepeda, intensitas latihan, faktor anatomi, kestidakseimbangan otot.

Tabel 1. Penyebab nyeri lutut pada pengendara sepeda[2]
                                 
       
      Anterior Knee Pain
Patellafemoral knee pain, biasanya disebut retropatellar syndrome, adalah indikasi awal dari perlunakan dari kartilago yang dapat berkembang menjadi chondromalacia. Patellofemoral pain syndrome berhubungan dengan malalignment dari mekanisme ekstensi dari lutut. Biasanya penderita mengeluh nyeri lutut pada saat lutut diberi beban.
Chondromalacia, ditandai dengan nyeri atau krepitasi pada daerah retropatellar, ditandai dengan sensasi bergererak dengan ketidaknyamanan pada anterior patellofemoral terutama pada saat mengendarai sepeda yang menanjak, dan duduk dalam waktu yang lama.
Quadriceps tendinosis,  ditandai dengan nyeri pada insersi tendon quadriceps pada patella. Nyeri bisa terlokalisasi pada bagian medial atau atau lateral dari area suprapatellar. Bisa disebabkan oleh trauma akut tapi biasanya disebabkan cedar berulang.      
Patellar tendinosis, dapat disebabkan oleh iritasi dari tendon patella dan biasanya duisebabkan tarikan berlebihan pada tendon saat pedal pengendaratidak pada posisi yang tepat. Pembengkakan fokal dengan krepitasi biasanya ditemukan.
Prepatellar bursitis, jarang pada pengendara sepeda, dicurigai bila bengkak dan nyeri pada anterior patella.

 Medial knee pain
Pes Anserinus Bursitis, dikenali dengan nyeri tiba-tiba pada medial proximal tibia, sekitar 2-4 cm dibawah sendi lutut. Disebabkan oleh trauma langsung ataufriksi berulang pada bursa. Saat terjadi peradangan pada bursa, kontraksi pada otot harmstring, rotasi tibia, dan penekanan langsung pada bursa pes anserinus akan menyebabkan nyeri
Mediopatellar plica syndrome, menyebabkan nyeri pada medial retinaculum. Medial plica dapat terjepit pada medial condyle femur saat fleksi lutut menyebabkan peradangan dan bengkak. 

Lateral knee pain
Iliotibial band syndrome, disebabkan oleh peradangan dari intraartikuler synovium atau fascia dari ITB secara berulang menggesek lateral condyle saat bergerak pada fleksi dan ekstensi. Biasanya nyeri tajam dan seperti ditusuk pada sisi lateral dari lutut.

      Posterior knee pain
Jarang pada pengendara sepeda, biasanya disebabkan biceps tendinosis, atau medial harmstring tendinosis.[2, 4-5]


Management
Penanganan awal dari cedera overuse mengikuti prosedur PRICEMM (Protection, Rest, Ice,Compression, Elevation, Modalities, Medications) untuk mengontrol peradangan dan memberikan waktu pada jaringan untuk pemulihan. Pengurangan peradangan dan nyeri membantu meningkatkan rentang gerak, rehabilitasi lebih awal.
Pada tendinosis, pembebasan relative tendon dari beban sangat berpengaruh pada kesuksesan pengobatan. Pembebasan beban dapat berupa koreksi anatomi, fungsi dan perlegkapan yang berhubungan.[1-2,4]. 


                                                                                                                                

DAFTAR PUSTAKA

  1. Roberts and W. O., Bull's Handbook of Sports Injuries. 2nd ed, ed. McGraw-Hill. 2004.
  2. CPT Chad Asplund, M. and M. COL Patrick St Pierre, Knee Pain and Bicycling, Fitting Concepts for Clinicians. The Physician and Sportsmedicine 2004. 32(4).
  3. McMahon and J. Patrick, Current Diagnosis & Treatment in Sports Medicine. 1st ed. , ed. McGraw-Hill. 2007.
  4. McKeag, et al., ACSM's Primary Care Sports Medicine,. 2nd ed, ed. L. Williams and Wilkins. 2007.
  5. Christopher, C.M., et al., Netter's Sports Medicine. road biking, ed. R. Marc. 2010. 571-591.